Berganti

    |…. Seringkali penyebab perputaran keadaan oleh sebab perputaran pikiran dan perasaan”

    Ilmuan psikologi barat meyakini bahwa kendali atas sikap—dan perilaku—seseorang ialah pada pikiran dan perasaannya, serta dan lingkungannya. Pikiran bisa diwakilkan oleh aliran psikoanalisa, dan humanisme, sedangkan lingkungan bisa diwakilkan oleh aliran behaviorisme. Jadinya, seolah-olah alam semesta ini berada atas kendali manusia itu sendiri atau lingkungan. Kalau begini, di manakah Tuhan berada?

    Menurut riwayat sejarahnya, Sigmund Freud sebagai tokoh Psikoanalisa ternyata “Atheis”. Behaviorisme itulah ia anggap pengganti agama, dengan kata lain agama Sigmund Freud adalah Behaviorisme. Maka wajarlah, bila dalam teori pemikirannya tak pernah tersentuh olehnya nilai-nilai “keagamaan dan kemanusiaan yang utuh”. Anehnya lagi, hipotesa dirinya menyatakan kalau-kalau “seks” menjadi penggerak dari semua aktivitas manusia. 

    Berganti itu artinya beralih, berproses dan bertukar seiring kealamiahan waktu. Eksistensi waktu meniscayakan pergantian. Katakanlah manusia sebagai makhluk hidup, hidup berarti ada waktu yang melekat di dalam dirinya. Kehidupan memberikan gerak—dinamis—di sini “berganti” bisa diperhatikan. 

    Manusia itu sebenarnya lebih cepat bosan, karena itulah diciptakanlah otak kanan. Di sini, ia berperan dalam penyeimbang otak logika yang terlalu monoton. Keadaan seimbang yang asyik dan tidak menoton dilahirkan oleh bergabungnya dua hal tersebut secara sinergis. Dengan berusaha dengan “diri kita sendiri”, keseimbangan bisa dihasilkan. 

    Tuhan memberikan sinergis keduanya, kita yang berusaha dan merasa Tuhanlah penggerak dari segalanya. Yang menggerakkan hasilnya, bahkan proses kita untuk berubah dan berganti. Tuhan lebih mengetahui, saat kapankah waktu yang tepat untuk diberikan “hasil” dan saat yang kurang tepat. Terlepas, sejauh manakah usaha dan proses yang kita lakukan.

    Jangan bersedih, bila usaha telah maksimal ternyata hasilnya tak sesuai harapan. “Bisa jadi, kalau-kalau kamu diberikan hasilnya, justru hasil tersebut akan merusak dan membuat kita enggan lebih berusaha.” Kalau sudah ditentukan takdirnya, usaha sekecil apa pun dengan keikhlasan, maka itu sudahlah mencukupi. Mencukupi syarat-syarat keberhasilan mendapatkan “hasil” oleh Tuhan.

    Bergantilah keadaan, dengan menggantikan pikiran dan perasaan. Segenap usaha diarahkan dan dirasakan bahwa yang menggerakkan kita ialah “Tuhan”. Bukan kemampuan kita, bukan karena impian kita, tapi sepenuhnya di setiap hembusan nafas ada diri-Nya. “Tidaklah manusia memiliki apa-apa melainkan dari apa yang telah diusahakannya.” Begitulah firman-Nya dalam kita suci.

    Satu kata, “Tuhan” tak pernah melupakan kita, sekali pun kita dalam puncak kelalaian pada-Nya. Ia selalu ada di samping kita, sekalipun kita tak merasakannya. Dia memberi, dan tak mengharap kembali. Semua yang beriman dan berdosa, diberikanlah hak-hak kehambaannya. Tak pilih kasih. Dan janganlah merasa hanya karena berdosa kau telah putus asa untuk kembali. Kembalilah kepada Tuhanmu, Allah Penguasa Semesta Alam, pencipta langit dengan segala tingkatannya.  

    MG. Ma’ruf
    Kediri, 22 November 2014

    896 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Berganti”

    1. Saya pernah mengikuti seminar otak kanan dan otak kiri di Pontianak, Pematerinya motivator terkenal di Indonesia. Ada deh namanya Kalau saya sebut nanti IKLAN hahahha. Harus bayar donk hihihi.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *