Berdiri di antara Ruang dan Waktu


    “Tidak sedikit seseorang yang mengarahkan hidupnya kepada
    masa depan, segalanya dipertaruhkan untuknya. Tapi, marilah kita pahami bersama.
    Di saat seseorang bergerak ke depan, justru masa depan bergerak ke masa
    sekarang bahkan ke masa lalu”
    Bahwa lazimnya
    kita mengatribusikan segalanya condong kepada pengalaman inderawi. Yang tanpak,
    dan begitulah kenyataannya yang ada. Sejenak terkesan objektif, tanpa menyusut
    tuntas habis hakekatnya. Pernah suatu ketika, telur asin yang kami beli di
    warung “terlihat” segar, rupa-rupanya setelah dibelah menjadi dua yang tanpak “kebusukan”.
    Ternyata telur itu palsu. Dalam kenyataannya, acapkali ditemukan “topeng-topeng”
    kehidupan. Di sini kemudian, ruang dan waktu kan membuktikan di balik topeng
    itu.
    Tidak sepenuhnya
    salah pe-label-an ini toh si begini, si begitu dan bla-bla. Sayangnya,
    lebel tersebut melekat kuat sepanjang waktu, sekarang, dan masa depan. Akibatnya,
    sikap dan perilaku kita mengikuti bagaimana persepsi itu dibentuk sedemikian
    rupa. Sebut saja si “A”, ini pernah nge-bully di kelas. Karenanya, pandangan
    menjadi “jahat” mengenai apa pun tentangnya. Waktu pun tak mau berkompromi, ia
    mengembangkan akal pikiran busuk tersebut. Sikap dan perilaku cenderung
    menjauhinya. Lagi-lagi, di sinilah seseorang terkadang bersikeras
    mempertahankan pikirannya “bahwa ia tidak baik”—sepanjang waktu dari sekarang
    sampai yaumil qiyamah.
    Ini, kita
    sebut sebagai “pengalaman inderawi”. Bahwa kepercayaan kepada orang lain rusak
    oleh tipuan inderawi tanpa memahami esensi waktu yang melekat padanya.  Immanuel Kant (1724-1804) dalam bukunya The
    Contique of Pure Reason
    mengatakan “pengetahuan mengenai suatu objek
    senantiasa didasarkan atas pengalaman inderawi dan pemahaman akali.” Pengalaman
    inderawi melekat kuat dalam ruang waktu. Mendahulukan pemahaman keduanya
    sebelum pengalaman, akan menyelamatkan kita. Akan banyak perspektif dalam
    memandang setiap problema yang ada.
    Artinya,
    tidak serta merta objek dipahami apa adanya. Ia ada karena ada yang
    membentuknya (penyebab). Bagaimana mungkin pemahaman ini muncul, jika saja
    waktu diacuhkan sebagai kronologi proses pembentukan objek tersebut. Maka,
    dengan melihat penyebab (dengan bantuan waktu) tanpak jelas esensi dari objek tersebut.
    Pandangan
    tadi mengenai pandangan negatif kepada orang lain adalah sekelumit contoh saja.
    Lebih naif lagi, bila tak disegerakkan pemahaman “waktu dan ruang” kita menjadi
    makhluk terlena. Terlena oleh indahnya cinta, terlena oleh janji-janji palsu
    oleh pemberi harapan palsu dan seterusnya. Fokus kita kepada cinta, telah memburamkan
    pandangan. Bila kita melihat “cinta” dari kaca mata “waktu dan ruang”, maka
    kemudian kita benar-benar menyiasati diri dari keterputusan dan kesakitan di
    kemudian hari. Kesadaran bahwa cinta yang dipaksakan menembus ruang dan waktu
    pada akhirnya memberi penyesalan—cinta yang tak pada tempatnya dan tak pada
    waktunya yang tepat.
    Contoh lain
    adalah masa depan. Telah dibaca awal tulisan ini, dan masih kita temui “waktu”
    yang katanya lebih berharga kini tergadaikan oleh pemanjaan-pemanjaan oleh
    lingkungan. Hiburan semakin beraneka ragam, sebagian besar seorang lebih memilih
    mendahulukan kesenangan (hedonism). Padahal, kesenangan sejati itu berawal dari
    pengungkungan diri untuk terus bertahan dalam ketidaknyamanan. Kita akan
    merasakan manisnya hidup bila merasakan pahitnya. Ini hanya bisa terintegrasi
    dalam reformasi diri bila saja kita mau “berdiri di antara ruang dan waktu”.

    Berdiri
    berarti bangkit lalu tegak. Berdiri di antara ruang dan waktu mengisyaratkan
    kita agar tidak menyatakan dengan seenaknya “telah pupus harapan”.  Kebijaksanaan dalam memandang problema
    keseharian, sampai terhadap tugas kuliah yang numpuk tak karuan.  Semangat bro!

    985 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Berdiri di antara Ruang dan Waktu”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *