[Berani Cerita #42] Semut Mungil

    “Kamu
    itu siapa? Mengapa kamu sedih?” Lelaki berwajah masam sedang duduk bersimpuh
    seakan kehilangan segala-galanya. Akhir-akhir ini, senyumannya tak lagi tanpak
    di wajahnya, matanya lesung, dengan alis yang tebal tak lagi menghiasi. Tertunduk,
    menatap langit biru yang indah. Sesekali kedua kakinya ia julurkan ke depan,
    searah dengan akar pohon yang sedang ia duduki. Keindahan alam, tak mampu lagi
    meneduhi jiwanya yang menangis meronta, tak bersedia menerima kenyataan
    penciptaannya.
    Sore
    itu, tepat jam 15.00 di sebuah taman baca kesayangannya, datanglah seorang. Seorang
    yang pernah menyakitinya, seseorang yang tak lagi bersamanya dan berjanji hanya
    menjadi “adik” bagi dirinya. Iya, ketertarikan personal terpaksa ia tutup
    rapat-rapat. Karena secara diam-diam, ia sudah memiliki belahan jiwa. Kini,
    lelaki itu hanya pasrah. Pergi lalu menghilang meninggalkannnya ke tempat di
    dekat rumahnya. Hamparan rerumputan yang indah dan nyaman.
    Sebut
    saja ia Zhayyt, menjalin hubungan yang tak pernah terhubung, sebatas teman,
    terhadap orang yang sebenarnya ia inginkan. Kenal dengannya saat pertama kali
    ke perpustakaan, saat sama-sama mengerjakan tugas bersama untuk sebuah
    pelajaran masa depannya. Mereka berdua satu kelompok dalam presentasi lomba
    ilmiah. Tanpa sengaja, mereka bercerita banyak hal, bertanya satu sama lain.
    Eh
    mbak, namamu siapa?” tanya lelaki itu dengan sedikit memaksa diri.
    Senyumannya
    yang indah beriringan dengan wajahnya yang berseri, membuatnya menjawab, “Saya
    toh mas?”
    “Iya,
    siapa lagi kalau bukan sampeyan,” muslihat lelaki itu mulai tanpak sok sopan.
    “Oh
    saya! Panggil saja Farah”.
    Pantes
    saja, namanya saja artinya kesenangan, wajahnya juga menyenangkan.” Lagi-lagi,
    lelaki yang bisa menebak nama orang itu pelan-pelan menunjukkan modusnya.
    Sekarang
    ia bukanlah lelaki yang dulu, ia sudah insaf. Dulu pernah baik, dan pernah
    rusak gara-gara wanita. Kini ia mencoba merajut kembali masa depannya dengan
    kembali dan berlari kepada jalan yang lurus.
    Semut
    berjalan di bawah kakinya, di bawah pohon yang indah itu. Sungai tanpa tenang,
    yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi. sekejab ia berfikir dan merenungi
    semua keputusasaan untuk bisa bersanding hidup bersama perempuan yang telah
    lama ia kenal di kampusnya.
    Kepada
    semua ia memperhatikan dengan nyaman dan seksama. Mengadakan kontemplasi
    merasakan kesejukan alam, meredakan keputusasaan. Ia ingin bangkit, bangkit
    untuk mengarahkan hidupnya lebih baik di masa yang akan datang.
    “Semut!
    Mengapa kau begitu riang dengan dirimu?” tanya lelaki itu, fokus pikiran
    terhadap masalah kian hilang.
    Semut
    terdiam tak menjawab. “Ah semut! Jawab dong!” timpal si Zhayyt.
    Zhayyt
    mengancam semut, “Ayolah, bantu aku!”
    Semut
    pun tersenyum, menjawab pertanyaan dan tampak mengerti dengan apa yang
    diinginkan lelaki galauitu.
    “Zhayyt,
    tak ada seorang pun yang dapat menghindari kenyataan dirinya, bahkan jeritan
    hatinya. Semakin kita menghindari, semakin ia dekat dengan kita. hadapilah
    kesedihanmu dengan menerima kenyataan dirimu.”

    Si
    semut menghela nafas, menarik dan mengangkat dadanya sambil tertunduk. Kemudian
    melanjutkan percakapannya, “Zhayyt, pernah kah kau terpikirkan untuk menjadi
    makhluk sepertiku. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau kan kufuri, aku
    tercipta seperti ini, kau adalah manusia yang sebaik-baiknya, mengapa kamu
    bersedih. Seharusnya aku yang bersedih karena tercipta sebagai semut yang
    kecil, hidup yang tak lama. Tapi apa yang membuatku tetap hidup Zhayyt, karena
    aku tak mau mati sia-sia.” 
    *494
    kata

    836 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “[Berani Cerita #42] Semut Mungil”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *