Belajar Menulis dari Kisah Mahabarata

    Belajar Menulis dari
    Kisah Mahabarata
    Kasta Brahmana memiliki kemuliaan untuk belajar memanah,
    sebagaimana Kasta Ksatria. Keterampilan ini diperoleh selama bertahun-tahun,
    latihan demi latihan dari guru yang tepat. Bererapa mereka yang bukan Kasta Brahmana—Kasta
    Sudra—jika memaksakan mencari ketidaadilan tradisi, akibatnya fatal. Yaitu,
    ketidaktepatan senjata pada orang yang tak tepat.
    Menulis, kata guruku adalah habits. Ia lahir sebagai anak pembiasaan yang kita lakukan saban
    hari. Seperti halnya bahasa, yang juga memiliki kesamaan. Karena itulah, musuh
    terbesar kita adalah diri kita, bukan orang lain. lebih jelasnya terletak pada
    nafsu diri sendiri. Dan menghadapi diri ini merupakan jalan menuju
    kesempurnaan, bukan dorongan superiortas yang bersifat sementara. Perhatikanlah
    intisari nilai-nilai penting dari Kisah Mahabarata:

    apakah arti superioritas? Artinya, memiliki pengetahuan
    yang lebih dari orang lain, yaitu berapa banyak pengetahuan yang telah kau
    peroleh dibanding orang lain. Dengan kata lain, keinginan superior, menjadikan
    ilmu pengetahuan lebih dari sekedar persaingan. Kapankah sebuah kemenangan
    menjadi penting dalam sebuah kompetisi? Memungkinkan untuk menjadi superior
    dalam jangka tertentu. Tapi tidak bisa untuk bisa jadi hebat selamanya. Pada
    saat itulah, ketidaknyamanan, beban dan permasalahan mulai bermunculan.

    Tapi, daripada menjadi sosok yang superior, kalau ada yang
    menjadi sosok yang luar biasa akan bagaimanakah rasanya? Untuk menjadi sempurna
    berarti memperoleh apa yang pantas untukdidapatkan. Itu bukanlah hal di luar
    keinginan untuk menjadi yang terbaik. Tapi, hanya untuk menyenangkan diri
    sendiri saja. Dalam jalan menuju kesempurnaan, tak ada yang perlu bersaing
    dengan orang lain. itu adalah persaingan dengan dirinya sendiri. Dengan kata
    lain, ia yang berusaha untuk menjadi sempurna, cepat atau lambat akan
    mendapatkan semua pengetahuan. Bahkan, tanpa mencoba sekali pun, dia bisa
    menjadi superior. Tapi dia yang berusaha menjadi superior, mungkin atau pun
    tidak, bisa saja berhasil, tapi tidak akan pernah menjadi sempurna.
    Itulah beberapa penggal kata bijak, bila kita
    mempraktikkannya, lebih-lebih menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
    Bukanlah kan hanya beban menulis saja yang hilang, namun otomatis akan
    memberikan kekuatan dan pondasi untuk melejitkan semangat menulis. Di sini,
    rahasia keajekan (baca; konsisten).
    Ya, itu berawal dan berakhir oleh diri sendiri sebagai penentu. Untuk
    melatihnya, perlu untuk menerapkan “memerangi” diri sendiri.
    Ajeg, adalah sebuah proses berkesinambungan, itulah inti belajar.
    Proses yang terpotong “sekali saja”, akan sulit memulainya kembali. Keajekan yang terkhianati oleh
    kepentingan yang lain walau pun Cuma sekali, akan sulit tersambung kembali.
    Kalau sudah begini, kita sudah mengetahui bahwa kunci keajekan adalah terus berproses tiada henti, tidak bolong walau
    Cuma setitik percikan api.
    Berikutnya mengenai persepsi, “Tulisan yang bagus, berarti
    tulisan yang sudah masuk media massa.” Kata siapa juga? Bukankah wartawan masih
    kalah jauh produktifitasnya, kreatifitasnya dibanding penulis amatiran? Mereka
    mampu menulis baik di media, coba suruh buat buku, kira-kira sanggup berapa
    buku dalam setahun? Iya, mereka telah dikungkung oleh sederet aturan di dalam
    pikirannya. Yang membuatnya menulis bukan lagi sebagai kebebasan berekspresi. Kekhawatiran
    mereka karena takut tak sesuai dengan pola-pola kepenulisan yang paten, telah
    membuatnya benar-benar kesulitan menulis lancar. Ingatlah, proses menulis itu
    tak akan pernah selesai.
    Jadi, tunggu apalagi! Mari menulis sebagai kebebasan,
    sebagai wujud dari ekspresi diri, pelepasan dari beban pikiran, perasaan dan ketidaknyamanan.
    Atau apa pun, termasuk insting dan kepekaan terhadap lingkungan di mana kita
    berada. Menulislah untuk niat merubah diri menjadi lebih baik, yang mengajarkan
    kepada diri sendiri.  Itulah inti menuju
    kesempurnaan dengan menulis. So! Menulislah sekarang juga!

    961 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Belajar Menulis dari Kisah Mahabarata”

    1. setahu gue yang bener ke-ajeg-an. hehehe

      tapi masih bingung sama paragraf pertama, tentang kasta sudra yang mencari ketidakadilan tradisi. lalu bagaimana dengan kisah karna? bukankah hak tiap manusia untuk berjuang untuk hidup yang lebih baik? 😀

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *