Belajar Menghormati

    Sebagaian orang
    membela dirinya, ngotot menyerang orang lain hanya gara-gara soal sepele. Misalnya
    umpatan, ejekan bahkan karena sentilan seseorang marah. Karena itulah, ia
    membela dirinya. Mereka berdalih, ini demi “harga diri” mereka. Hah! harga
    diri! Apakah mereka tak bisa membedakan, manakah hal sepele dan manakah yang
    bukan? Yang mana disengaja dan yang mana tak disengaja.
    Perlu kedewasaan,
    seperti orang dewasa yang bisa mengartikan, memahami kesalahan orang lain. Serta,
    mendapatkan porsi permasalahn itu sesuai dengan akal-logis, dan realistis. Jika
    persoalan sepele, tak perlu marah berlebihan.

    Tapi yang saya
    bahas dalam hal ini bukanlah soal marah, namun kepada ‘menghormati’. Pentingkah
    penghormatan bagi kita? Pentingkah menghormati bagi kita? Seberapa urgen
    menghormati sesuatunya dalam hidup kita?

    Menghormati berarti
    mengakui eksistensinya, kemudian menghargai sesuai kadar wajudnya bahkan
    melebihi dari semestinya. Dikatakan kita menghormati seseorang ketika kita
    mengakui eksistensinya dengan mengakui bahwa ia ada, ia penting dan bukan
    menjadi prioritas yang ke sekian jauh dari prioritas utama. Menghargai dirinya
    sesuai dengan nilai harga sesuatu tersebut bahkan lebih.
    Tanpa penghormatan,
    saksikanlah bagaimana sebuah perusahaan terpincang-pincang dan terpaksa gulung
    tikar. Sebuah keluarga yang hancur tak mengindahkan peran sebagai anggota
    keluarga. Seorang murid yang tak pernah bisa menyelesaikan studinya, bahkan
    seorang pemungut sampah yang bertambah terpuruk karena tak belajar menghormati
    usahanya.
    kita bisa
    belajar menghormati seperti semut. Penghormatannya kepada kebersamaan tak
    membuatnya putus asa, ia sadar memiliki banyak teman untuk memikul beban
    makanan yang beratus-ratus kali lebih berat dari tubuhnya. Semut sadar, dengan
    menghormati kebersamaan ada sesuatu yang harus ditanggalkan. Biasanya sesuatu
    itu ialah “kerakusan” dan “keegoisan diri sendiri”. Kita tak pernah mendapati
    mereka makan seorang diri, di kuasai oleh dirinya sendiri.
    Hilangnya sikap
    menghormati akan memunculkan banyak hal yang tak diinginkan. Hilangnya rasa
    tanggung-jawab, tak adanya sikap menghargai bahkan memandang dengan mata sebelah.
    Ini sudah fatal, ujung-ujungnya kita “meremehkan”. Maka apa yang bisa “didapatkan”
    bila kita tak “memberikan” penghormatan? Di sini letak tawadhu’ diri kita, tak
    menyombongkan diri. Karena kesombongan membuat kita buta dari kelebihan orang
    lain, kita tak akan pernah bisa belajar dari mereka.
    Memang tak
    mudah diawal untuk menegakkan sikap demikian, karena kita terpaksa keluar dari
    diri sendiri untuk mengakui eksistensi yang kita hormati. Namun sebenarnya,
    berani menghormati sesuatu berarti kita telah selangkah menghormati diri kita
    sendiri.
    Satu hal
    penting, kita tak perlu meminta untuk dihormati oleh orang lain. Karena hal itu
    justru menurunkan harga diri, yang terpenting belajar menghormati diri kita
    sendiri dengan menghormati orang lain. Sejauh bagaimana menghormati, sejauh itu
    yang didapatkan.

    Bagaimana kita
    menghormati sesuatunya ikut menentukan kita “menyikapi” sesuatu itu. dan
    bagaimana kita menyikapi menentukan bagaimana kita “berperilaku” pada itu. dan
    di situlah penentu apa yang bisa didapatkan dari itu. itu adalah sesuatu yang
    memiliki kemungkinan apakah akan kita hormati atau tidak.
    Kediri, 17 April 2015

    1,638 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    4 tanggapan untuk “Belajar Menghormati”

    1. bener sekali agha..siapaun dia kita harus menghormatinya…terkadang aku sebel juga sih..mentang2 pejabat kadang pas dihormati dia seenaknya saja meremehkan kita..apalgi yg ada dibawahnya…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *