Belajar dari Sosok H.O.S Djokroaminoto

    Djokroanimoto,
    bapak guru bangsa. Di rumahnya yang sederhana, Soekarno dan kedua temanya
    tumbuh menjadi sosok luar biasa. Soekarno muda berdiam di tempat tersebut,
    sebagai tempat kosan perkuliahan. Di lantai dua, Proklamator Indonesia berlatih
    pidato. Anhar Gonggong –sejarawan dan peneliti—berkata dalam sebuah show
    televisi, “Soekarno sebenarnya modifikasi dari gaya Djokroaminoto”. Sebuah
    pemuda yang tumbuh dalam lingkungan yang baik.

    Rumah kuno itu
    disebut-sebut sebagai “rumah ideologi”. Di sini Djokroanimoto memiliki ruangan
    khusus untuk saling berbagi pikiran bersama tiga orang pemuda; Soekarno dan
    kedua temannya. Anis Baswedan mengatakan, bahwa Djokro tak memaksakan pemikiran
    ketiga orang tersebut yang berbeda satu sama lain agar mengikuti pikirannya.
    Justru sebaliknya, ia membiarkan pemikiran mereka tumbuh dengan sendirinya.
    “sungguh, inilah guru yang berjiwa pendidik”.
    Anis
    menambahkan sosok Djokro luar biasa, seorang Natsir berbicang dengan Djokro
    selama 30 menit telah mengubah sudut pandang dirinya. Natsir menajdi lebih
    fokus kepada persoalan “bangsa”. Kekuatan guru sosok semisal Djokro telah
    membuat pemikiran pendengarnya berubah, seolah masih banyak yang perlu
    dipikirkan selepas perbicangan; wahana introspeksi diri. Guru semacam ini patut
    dicontoh oleh siapa pun.
    Keterdidikan disadari
    sebagai sebuah cita-cita luhur, tapi lebih penting dari itu ialah pendidikan
    sebagai medium untuk sesuatu. Kesadaran semacam ini tidak didapatkan oleh
    pemikiran alam imajinasi, Anis mengatakan ia didapat melalui “interaksi sosial”.
     Dari Sosok Djokro bisa disimpulkan, “….
    bukan karena garis keturunannya, tapi karena gagasan dan pemikirannya”. Mengapa
    hal ini penting, karena pikiran dan gagasan akan menimbulkan suatu perspektif
    baru. Semakin luas pemikirannya, semakin baik perspektifnya terhadap persoalan.
    Ada banyak
    hal yang bisa kita pelajari dari sosok beliau, tak ada ruginya kita sebagai
    pemuda sekarang meluangkan banyak waktu untuk mengasah pikiran. Membaca,
    berdiskusi dan menyimak menjadi aktivitas pilihan. Apalagi dengan kemajuan
    teknologi, android bisa digunakan sebagai sarana yang mengarah ke perkembangan
    diri, tidak melulu untuk hiburan diri. Bila kita tak sempat traveling, maka
    buku menjadi pelarian paling menyenangkan. Jika teman-teman kita sibuk dengan
    dunianya, sesekali kita perlu belajar menjadikan buku sebagai teman selamanya.
    Perspektif adalah
    alat, perbedaan perspektif menentukan bagaimana seseorang berbeda dalam
    bersikap. Sikap seseorang berkontribusi besar bagaimana ia bertindak. Pemikiran
    dan perspektif yang baik melahirkan suatu tindak perilaku yang sesuai. Dengan begitu,
    pikiran sangat penting untuk melangsungkan kehidupan.

    1,546 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    5 tanggapan untuk “Belajar dari Sosok H.O.S Djokroaminoto”

    1. Wah keren ya ternyata sosok Tjokroaminoto ini. Sempet diajakin nonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto cuma belum sempet hehehe, kayaknya jadi film yang wajib ditonton. Ada bukunya nggak sih? :O

      Yaps bener banget, teknologi yang ada sekarang terlalu disayangkan kalau hanya digunakan untuk hiburan. Anyway, nice writing, keren!

    2. aku baru tahu kalo sosok tjokroaminoto ini sebegitu kerennya. artikel yang menarik. emang kita sebagai generasi muda, perlu sesekali menilik kehidupan tokoh tokoh pejuang jaman dulu, semacam pak tjokro ini. biar enggak terlalu terlena dengan gemerlap kemegahan era gadget.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *