Rango-Banner

Belajar dari “Rango”, Belajar Tak Bohongi Diri

    Sejenak
    bercerita tentang film ini,  awal
    perjuangan Rango hadir di sebuah situasi baru. Ia baru mengenal daerah
    tersebut, di mana tak seorang pun pernah mengetahui hakekat dirinya. Tak ada
    seorang pun yang tahu siapakah ia sebenarnya, pemberani atau kah seorang
    pengecut. Rango si tokoh utama dalam film animasi ini diperankan oleh seokor
    bunglon. Iya, sebagaimana diketahui bersama, bunglon berubah sesuai dengan di
    mana ia tinggal. Bila tinggal di pohon, warnanya pun akan berubah menjadi warna
    pohon. Ia pintar beradaptasi.
    Singkat
    cerita, Rango pun memasuki sebuah bar di suatu desa seperti di film-film koboy,
    karena di daerah seperti para koboy, di mana cultural horor merupakan
    budaya mereka. Mati mempertahankan kehormatan diri dan memperjuangkan martabat
    diri lebih baik dibanding mati dalam sia-sia. Rango sejati sebenarnya sosok
    penakut, sosok yang “pintar berbicara namun tak pernah melakukan apa yang
    dikatakannya.” Pantas saja, bila ia disebut oleh seekor kura-kura sebagai sosok
    yang “membohongi diri sendiri”.
    Awal
    cerita, tidak ada yang tahu. Sosok kurus sepertinya, menunjukkan “topengnya”;
    menceritakan bahwa pernah membunuh musuhnya dengan satu peluru, padahal tidak
    pernah ia lakukan. Mengatakan bahwa ia dari barat, padahal ia tak pernah
    dilahirkan dari sana. Semacam, menyembunyikan kelemahan dirinya dengan
    berpura-pura menjadi orang yang hebat, semacam pembunuh yang ganas.
    Masyarakat
    di sana pun percaya kepadanya, kepercayaan yang sesat. Ia diangkat menjadi “Sherif”
    sebagai penegak hukum di kota tersebut, gara-gara secara kebetulan telah
    membunuh seekor elang. Elang itu yang akan memangsa setiap masyarakat koboy;
    para tikus dan hewan kecil lainnya. Dari situlah, masyarakat percaya kepada
    sosok pintar beradaptasi tersebut.
    Lambat
    laun, masalah datang. ‘pasokan dan persediaan’ air di daerah tersebut sudah
    habis, semua masyarakat hanya akan mampu bertahan selama 5 hari saja. Sherifpun
    bersama teman-teman perjuangannya berangkat mencari air, ke tempat musuh. Tapi sayang
    tidak diketemukan simpanan yang ada di daerah musuh. Ia kembali ke daerah di
    mana dipercaya masyarakatnya, “ia kecewa” dan orang di sana pun kecewa padanya.
    Ia
    melapor ke wali kota (wujud kura-kura), tak digubris. Sherif berlahan curiga,
    jangan-jangan wali kota lah yang merencanakan semua skenario ‘air’ tersebut. sebab,
    ketika menanyakan apakah wali kota mengendalikan air, si wali kota mengalihkan
    perhatiannya. Setibanya pulang, Jack tangan kanan wali kota yang merupakan
    wujud ular memperlakukan sherif di depan masyarakatnya untuk mengatakan sejujurnya
    kebohongan yang ia lakukan. Ia tidak pernah membunuh maupun berasal dari barat.
    Semua
    masyarakat tidak lagi percaya pada Rango yang keberaniannya hanya bermodal “cangkem”
    (mulut: bahasa jawa). Dan ia lari dari desa, merenungi sipakah ia sebenarnya. Dalam
    pencarian, ia bertemu malaikat, dan karena dorongan. Ia kembali ke masyarakat
    dan membuktikan ucapannya. Ia berhasil membawa air banyak ke kota tersebut
    gara-gara ulah manusia.
    Pelajaran
    yang dapat aku petik dari film animasi ini;
    (Kepercayaan)
    Menjadi
    pendusta bagi diri sendiri adalah awal dari kehancuran; kehebatan berbicara,tak
    dibarengi ketundukan diri pada lisan sendiri, pintar memerintah,  akan tetapi tak bisa memerintah diri sendiri.
    Saat semua orang percaya kepada ucapan kita, saat itulah awal dari kehancuran
    kita. kepercayaan yang disusun oleh ‘kepiawaian’ kata. Sampai saatnya,
    terbuktilah siapakah sebenarnya sosok kita. kepercayaan hilang, bahkan lenyap.
    Namun,
    bila kata-kata kita yang diucapkan kepada orang lain telah kita buktikan, maka
    saat itulah awal kejayaan diri kita. kepercayaan ini adalah kepercayaan sejati.
    Di mana “seseorang memerlukan bukti nyata” bukan sekedar basa-basi saja. Maka, sedikit
    berbicara, banyak tingkah adalah hal yang utama.
    (Impian)
    Andaikata
    kita tak pernah ‘ambil bagian’, tak pernah kita mendapatkannya. Karena dunia
    datang bukan “ditunggu”, tentu harus dijemput. Impian, tak ubahnya dengan hal
    tersebut. ia perlu dijembut, diperjuangkan sampai ke hal tersebut terwujud. Maka,
    “ambillah selangkah lebih, atau kita akan tertinggal jauh dari mereka.”
    Impian
    berarti sesuatu yang diperjuangkan. Kehidupan tanpa perjuangan adalah kehidupan
    palsu. Lahan tanpa air adalah lahan yang tak akan berarti apa-apa. Karena alasan
    ini pulalah manusia dapat hidup, impian membuat hidup. Di dalamnya ada semacam
    tantangan, tak ada yang dapat menghindari tantangan tersebut,maka hadapilah
    saja. Senjatanya adalah kita memerlukan “sebuah kepercayaan” kepada impian
    tersebut. memang, kadangkala kita perlu bersusah, berpedih dalam mencapai ke
    arah tersebut, tapi ingatlah hal tersebut akan terbayar lebih di akhir
    perjalanan nantinya. So, tetaplah bertahan.
    Perlu
    diingat pula, “tak ada seorang pun di antara kita yang dapat lari dari jeritan
    kita sendiri.” Karena hakekat jeritan sebagai masalah yang mengajarkan banyak
    hal. Dalai Lama (Tokoh Masyhur India) mengatakan, masalah membuat kita bahagia,
    karena saat itulah kita begitu berarti. Jeritan dihadapi dengan tanpa jeritan,
    menjerit akan semakin membuat kita tercekik, tak aa yang membuat kita begitu
    kecuali diri kita sendirilah. Hadapi dengan senyuman indah.
    Bila
    tak tahan denga jerita, kita mungkin perlu melihat apa yang perlu dilhat. Keindahan
    yang sejuk dilihat. Jangan lihat pedihnya jeritan, jangan rasakan perihnya
    kesakitan. Tetapi lihatlah keindahan impian, kenyamanan hidup bersamanya. Saat semuanya
    telah tercapai.  
    (pencarian
    diri)
    Siapakah
    sebenarnya diri kita? apakah kita berhenti mencari diri kita yang hilang? Atau terus
    melanjutkan perjuangan mencari diri kita yang hilang itu? Atau terpaku sedih
    menatap kekelaman masa lalu, lalu berhenti tak beri manfaat kepada sesama. Janganlah
    kita merusak diri kita sendiri, bermanfaatlah kepada sesama. Di sanalah kita
    kan temukan “siapakah diri kita yang sebenarnya.”

    265 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    8 tanggapan untuk “Belajar dari “Rango”, Belajar Tak Bohongi Diri”

    1. Berbohong itu memang gak enak, ketika kita membohongi orang lain nah itu sama saja kita membohongi diri kita sendiri.

      Wah, aku belum pernah lihat film ini. Film kartun kan ini? Sepertinya film ini banyak pelajaran yang bisa di petik 🙂

    2. Weeeh tadi aku juga liat lo film nya bang, gak begitu ngerti sih karna liatnya pas di tengah – tengah. Tapi begitu baca fiosofi ala bang agha tentang film ini, aku jadi mengerti. Yahhh kadang kita lebih banyak membohongi diri dari pada menghadapi kenyataan yang ada. Bukannya berjalan dengan tenang tapi malah berlari seperti sok kuat. Yep, entahlah aku gak tau harus comment sepanjang apalagi. Filosofi nya bagus bang 😀

    3. sesungguhnya sebaik baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk sesama…iya khan Gha??
      ah, gue bisa liat sih lu anaknya pendiam, cuman skill lu merangkai kata kata yang bikin hati adem emang bagus! lu tau nggak website senyumsujudsyukur ato sujudsenyumsyukur pokoknya itu lah, dia kata katanya juga meneduhkan begini gha, lu tau nggak website itu??

      gue rasa kata kata mutiara lu adalah cerminan siapa dirimu sebenarnya…gue pikir, lu adalah cowok yg beda antara cowok cowok seumur lu yg lagi labil labilnya..behehehe..good writing! keep it up!

    4. aku setuju ma Meyk, Agha keren banget tulisannya (serius)

      btw kalo dari awal kita sudah jadi pendusta ya sama juga bohong, ke depannya nanti bukannya semakin baik tapi malah akan hancur dengan sendirinya, mg kita bukan termasuk golongan org yg spt itu

    5. anjrit tulisanmu keren bro.
      dari segi screenplay-nya aja udah johny depp,jaminan mutu.
      soal moral value-nya, keberanian buat bertanggungjawab atas omongan yang keluar dari mulut bisa juga masuk tuh

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *