Belajar dari Apa pun

    “dengan ilmu, rumah yang tak bertiang akan meninggi, dan dengan kebodohan rumah yang mewah akan terhinakan. Dan dalam kebodohan, adalah kematian bagi empunya. Jasadnya mati sebelum dikubur”
    — Pepatah Arab —
    Soal belajar bukan berarti menjadi soal anak yang menenteng buku terus menerus, atau kutu buku. Belajar tentu menjadi kebutuhan bagi setiap orang, di setiap waktu atau pun di mana pun juga. Meski demikian, tak banyak menyadari begitu berartinya belajar itu serasa begitu pentingnya makan pagi jasmani. Tak ayal, ada yang enggan untuk belajar, beralasan hanya buang-buang waktu saja. Bagi mereka, yang penting adalah aksinya. Kalau memang begitu, apa sich yang dinamakan dengan belajar itu?
    Ini adalah soal belajar, soal harapan yang berada di dalam hati setiap orang. Karena harapan tidak lebih hanyalah sebuah kondisi mutakhir dari kehidupan yang diharapkan, tidak ada pertentangan antara apa yang diharapkan dengan kenyataan yang sedang terjadi/dihadapi. Pastinya, harapan ini sebenarnya tidak mudah didapatkan, menilik kembali penyebab dari ketidakada harapan itu terletak pada masing-masing diri. Tidak pada konsisi itu sendiri.
    belajar untuk menjalani hidup, berarti belajar memberikan yang terbaik untuk hidup itu sendiri. Lalu, untuk memberikan yang terbaik selalu diharapkan ada perubahan pada setiap perilaku. Tidak percaya? Karena perilaku A akan menyebabkan hasil A pula. Dari sini, dikatakan belajar merupakan proses perubahan yang dinamis ke arah yang lebih baik.
    Para pembelajar sejati tak pandang apa pun selalu menjadi nilai lebih yang mengajarkannya menjadi mausia yang bijaksana. Belajar kapan pun, di mana pun dan dengan siapa pun dari siapa pun bahkan yang telah disebutkan yuitu dari apa pun. Entah, sudah sejak kapan penyakit gengsi berada di dalam diri manusia. Gengsi belajar dari orang yang lebih kecil, gengsi belajar dari musuh, gengsi belajar semut dan gengsi belajar dari apa pun, dengan alasan itu semua akan menjatuhkan harga diri. Kalau begini caranya, mana mungkin para pengasong, pengamen bus kota mendapatkan uang. Jangan anggap remeh temeh masalah gengsi ini.
    Serupa dengan gengsi adalah malas, yaitu sok jual mahal untuk mengorbankan waktunya demi belajar. Malas memberikan sebagian energinya, materinya demi ilmu. Fungsi pengorbanan bak uang untuk mendapatkan berbagai barang. Mereka mengatakan, hidup tanpa uang, hidup tak akan mendapatkan ketenangan. Semata-mata, hidup itu memanglah tidak gratis, selalu ada apa yang dapat dipertukarkan. Begitu pun dengan belajar untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik, selalu ada yang dipertukarkan yang berupa pengorbanan ke arah tersebut.
    Siapa tak ingin kebahagian, namun tak jarang yang keinginan tersebut hanya sebatas keinginan tanpa ada jalan selanjutnya, yaitu usaha. Salah satunya adalah belajar. Belajar hidup adalah belajar menaati aturan hidup, hukum hidup. Contohnya, belajar nilai-nilai kehidupan sosial, belajar mengenai apa yang berada di balik setiap peristiwa. Memang berat, gampang-gampang ‘enak’. Enak karena akibat belajar banyak hal yang dapat membantu kehidupan seseorang.

    Anda tak perlu terbebani dengan belajar, dengan membawa catatan atau apa pun. Karena belajar tak sesulit yang seseorang bayangkan. Hanya sebatas menuju proses yang lebih baik, semisal selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada. Intropeksi diri setelah melakukan apa yang tak diharapkan, dan lain sebagainya. Benar, hanya sesederhana itu dan dilakukan dengan sederhana. Bagaimana pun itu semua kebutuhan dasar yang selalu membawa ke dalam relung hati dan kebahagian bagi setiap orang yang berada dalam taman-taman p

    641 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *