Baper

    Anda tak kunjung menikah? Anda tak kunjung menemukan pasangan ideal? Itu bukanlah masalah. Situasi yang kebetulan sedang dihadapi, sejatinya tak pernah berdiri dengan menyisihkan orang lain dalam situasi yang berbeda. Dan Anda, bukanlah seorang diri dengan rasa-subjektif tersebut. Bahkan, kenyataan objektif yang benar, telah hadir pada kehidupan seseorang dalam tingkat ekstrem. Ada yang lebih menderita, atau ada yang lebih tak menderita.

    Lebih baik Anda belajar untuk menerima. Apa yang merupakan nikmat bagi orang lain—misalnya ia telah menemukan pasangan, belum tentu nikmat bagi Anda. Ketidakmampuan di dalam penerimaan hal ini termanifestasi dalam istilah “baper” (bawa perasaan). Melihat foto pasangan sakinah Anda langsung “baper”, mata langsung meneteskan mata. Meleleh. What your mind about it? What the etential of your mind? Tiba-tiba perasaan seorang diri muncul. Tiba-tiba pikiran sintementil merongrong: Tuhan jangan tinggalkan aku dalam lembah kesepian tanpa pasangan.

    Anda mau menyalahkan mereka—yang telah berpasangan—karena menjadikan baper? Anda menyalahkan orang lain karena tak ada yang peduli pada diri Anda? Atau, jangan-jangan Anda menyalahkan diri sendiri dengan penuh keputusasaan? Kesejatian kita sebagai manusia ketika menyerah—semisal dalam kasus ini—menunjukkan kita kehilangan diri sendiri. Identitas diri. Kita lupa, kita manusia. Kita lupa, Tuhan tak pernah lupa pada kita.

    Untuk dapat sedikit menenangkan diri, the comprehensive menjadi cara dalam menyimpulkan. Pentingkah berhati-hati “memberikan kesimpulan” dalam kenyataan yang dihadapi? Kebanyakan, meski tak benar-benar universal, perilaku kita didekte masa lalu kita berdasarkan “kesimpulan” padanya. Kesimpulan benar-benar telah membentuk semacam konstruk pemikiran di otak kita, dengannya kita melihat dunia. Melaluinya, pandangan kita berbeda satu dan lainnya. Sehingga, dalam menyikapi segala sesuatunya juga berbeda.

    Perlunya melatih diri keluar sejenak dari diri—yang sebagai subjek penarik kesimpulan. Baper sebagai objek, juga kemudian diri dijadikan sebagai objek dengan menyisihkan separuh diri sebagai subjek penilai diri sendiri. Umgreifende. Baper itu tidak enak, adalah objek. Dan itu berdasarkan opini Anda. Di sini Anda berdiri sebagai subjek terhadap opini tersebut.

    Selanjutnya, Anda perlu menjadikan diri itu sebagai objek, dan separuh yang lain sebagai subjek: “Benarkah apa yang saya pahami mengenai baper?”—bukan konsep baper itu sendiri. Tetapi pada proses Anda sendiri.

    Saya tak mengharap Anda bisa lepas dari baper, kemudian tak mau menikah seumur-umur. Harapannya, bagaimana masing-masing Anda dapat hidup dengan rasa itu meski dalam serbuan konfirmitas dan tekanan. Berdiri kokoh meski rongrongan para sesepuh mencoba mendorong mendahului takdir Anda; menikah sesegera mungkin. Maka, menikah bukan soal kecepatan, tapi ketepatan. Bukan soal ketampanan atau kecantikan, tapi soal keshalihan. Bukan juga soal kekayaan harta, tetapi soal qonaah yang senantiasa dirajut bersama dalam duka dan cinta.

    Pada akhirnya, situasi itu akan berlalu. Masing-masing diri akan dipertemukan dengan pasangan. Tinggal kenangan, tinggal sejarah personal. Masalah yang dihadapi ini akan tanpak begitu pelik bagi kalangan umur tertentu. Pembiaraan terhadap baper menjadi pengendali kekuasaan-kekuasaan destruktif pada diri sangatlah berbahaya. Anda akan semakin rusak, tak jelas dan hilang arah. Hidup dalam kefrustasian dan ketidakpastian. Meski akhirnya telah menjadi sejarah, tapi sejarah yang kropos. Tak bernilai apalagi bermartabat yang seharusnya melahirkan manusia—yaitu, kita—yang bijaksana.

    “Man must know what he was, to realize what the can be. His historic past is an inevitable basic factor of his future
    ”. (Jaspers)

    Sumenep, 20.09.2016
    Algazel Ma’roef | www.makruf.com

    4,219 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Baper”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *