Bagaikan Setitik Kecil

    “Yassiru wa laa
    tu’assiru,” Permudahkanlah dan janganlah persulit
    Para penceramah, aktivis, pemerintahan yang hidupnya tak
    lepas dari public speaking mereka
    awalnya merasa canggung bila berbicara di muka umum. Perasaan itu selalu
    berkembang, bahkan bila tak dilawan dan menyerahkan diri kepada kenyamanan,
    mana mungkin akhirnya mereka bisa menjadi pembicara handal. Mereka berani
    melawan, dan awalnya tentu tak merasa nyaman. Karena terpaksa keluar dari zona
    nyaman.
    Salah satu hal termudah agar bisa berbicara di depan umum
    adalah meremehkan penonton, misalnya anggaplah penonton itu seperti tidak ada.
    Ini akan mempermudah kepercayaan diri berbicara di muka umum. Saat sudah mulai
    tampil, ketenangan menjadi sarana utama. Karena bila gugup secara berlebihan,
    akan menjadikan materi yang akan disampaikan lupa tak karuan. Di sinilah inti
    dari kepercayaan diri, yaitu merasa nyaman melakukan sesuatu. Perasaan yang
    timbul setelah menyadari dan tidak memperbesar “bahwa” berbicara di depan umum
    bukanlah hal yang sulit.
    Pikiran itu berkembang, begitu pun dengan perasaan. Saat
    ketakutan, kekhawatiran muncul dan difokuskan, ia akan menjadi semakin besar.
    Namun juga tak patut bila dilawan, yang diperlukan hanyalah menghadirkan perasaan
    nyaman dengan mengatur pernafasaan sembari mengontrol pikiran. Di sini,
    semuanya akan terasa nikmat. Tidak memperbesar keadaan menjadi semakin runyam,
    lebih baik jadikan semakin nyaman.
    Mungkin pekerjaan yang kamu lakukanlah bukanlah pekerjaan
    sepele, pekerjaan berat atau bahkan yang belum kamu ketahui bagaimana
    mengerjakannya. Dengan alasan itu, beberapa orang terpaksa menunda apa yang
    seharusnya dimulai, menunda apa yang seharusnya diselesaikan. Lalu, mengapa
    anggapan tersebut ada? Salah satunya karena adanya unsur pengalaman sebelumnya,
    alih-alih mendasarkan hari ini dengan hari sebelumnya. Atau misalnya didasarkan
    pada apa yang kata orang lain. ketidakobjektifan ini sangat merugikan bagi diri
    sendiri.
    Jangan persulit diri dengan pekerjaan yang sebenarnya
    sederhana, dan jangan menyederhanakan pekerjaan yang sebenarnya rumit tuk
    ditaklukkan. Artinya, sulit tidaknya suatu pekerjaan tidak terletak pada
    pekerjaan tersebut. Ia lebih terfokus sebagai dampak dari “sudut pandang” yang
    kurang tepat. Pertama kali penulis belajar berbicara di depan umum, ada saja
    pikiran yang mempermudah bagi berkembangnya perasaan gugup. Tetapi, melawannya
    memberikan perasaan selangkah lebih maju. Sehingga pada kesempatan setelahnya,
    rasa percaya diri akan semakin meningkat.
    Anggaplah saja pekerjaan yang kamu laksanakan seperti sebuah
    titik. Sadarkan diri sesadar-sadarnya, atur nafas menjadi lebih teratur dan
    gerakkan pikiran mengenai apa yang sebelumnya besar sampai menjadi kecil.
    Dengan membiasakan seperti ini, semuanya justru akan meningkatkan keyakinan
    bahwa semuanya serba mungkin. Misalnya, sudah lama kamu mendambakan seorang
    suami yang sholeh, namun karena pengalamanmu di masa lalu selalu menjadi korban
    dari pengkhianatan lelaki kamu menjadi semakin tak percaya kepadanya. Karena
    perasaan  tersebut, kamu pun merasa semua
    lelaki sama, tak ada yang baik.
    Dari sini, sudah jelas, sikapmu dan perilaku terhadap lelaki
    berubah. Kamu lebih hati-hati, bahkan mungkin enggan mendekati lelaki mana pun.
    Sampai akhirnya, kamu pun tak mendapatkan sosok yang sempurna sebagai
    pendamping hidup. ketidakpercayaanmu kepada takdir yang baik telah menutupi
    usahamu sendiri menuju kepada hal tersebut.
    Dalam hal menunda, kamu harus percaya bahwa semuanya serba
    mungkin untuk dilakukan sesegera mungkin. Untuk itulah, agar mendukungmu
    “percaya” perlu menjadikan apa yang besar dan rumit bagimu serasa kecil seperti
    titik di dalam buku. Anggaplah kecil, dan ikatlah perasaan itu dengan
    kenyamanan hingga kamu benar-benar melihatnya sebagai hal yang kecil.

    850 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Bagaikan Setitik Kecil”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *