(ayat #1) Arti Sebuah Ujian

    بسم الله الرحمن
    الرحيم
    “….وما
    جعلنا القبلة التى كنت عليها الا لنعلم من يتبع الرسول ممن ينقلب على عقبيه….”
    Artinya
    “….Dan kami
    tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang), melainkan agar Kami
    mengetahui (dengan nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…”
    (al-Baqarah: 143)
    Bismillahirrahmanirrahim, dengan
    menyebut asma Allah yang Maha Kuasa,  penulis tidak bermaksud untuk menjelaskan, apalagi
    menafsirkan ayat di atas. Apalagi menafsirkan seenaknya sendiri. Tidak, sekali
    lagi tidak. Penulis di sini, hanya berusaha mentransformasikan dan
    mengintegrasikan ayat tersebut ke dalam jiwa penulis sendiri. Apalagi pembaca
    berkeinginan yang sama, maka alangkah baiknya sehingga menjadi daya penggerak
    untuk selalu berbuat kebaikan di dunia demi kehidupan akhirat.
    Di dunia ini, akan ditemukan dua
    jenis orang. Orang yang tak sabar, dan orang yang penyabar. Orang sabar,
    biasanya tak pernah menyalahkan keadaan dan tak pula menyalahkan diri sendiri;
    ia senantiasa menerima apa adanya. Contoh saja saat ujian kehidupan melanda
    dirinya, ia menjadi sangat mampu menerima keadaan dan menyerahkan diri semuanya
    kepada Allah. Berbeda dengan orang yang tak sabar, saat misalnya kehilangan
    sesuatu, yang disalahkan adalah orang di sekelilingnya. Serasa, dirilah yang
    paling benar, dan orang lainnlah yang menyebabkan akan hilangnya benda yang ia
    miliki.
    Tentu saja, kesabaran sangat muthlak
    diperlukan bagi orang yang sedang ditimpa musibah atau pun sedang diuji. Karena
    kesabaran, seseorang akan beruntung. Pepetah arab mengatakan, man shabara
    dhzafira
    “siapa yang sabar, maka ia akan beruntung.” Mengapa? Pernah kan
    mendengar ayat mengatakan bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
    sabar. Kalau Allah senantiasa bersama seseorang, siapakah gerangan yang mampu
    mengalahkan?
    Di dalam al-Qur’an disebutkan agar
    manusia senantiasa meminta pertolongan kepada Allah dengan cara “bersabar dan
    shalat”, yang mana keduanya akan sulit dilakukan bagi orang-orang yang tidak
    khusyu’. Jadi, sabar akan mengangkat derajat seseorang dan menenangkan hatinya
    untuk selalu dekat dengan penciptaNya.
    Ujian, tentu harus ada. Keindahan hidup
    terletak pada ujian. Nikmatnya hidup juga terletak pada ujian, bahkan “terhinanya
    atau mulianya seseorang” bisa dilihat dari bagaimana ia menghadapi ujian. Sebagaimana
    dikatakan dalam sebuah mahfudzat;
    بالإمتحان يكرم
    المرء إويهان
    “Dengan ujian, dimuliakanlah seseorang atau terhinakan”
    Jadi hakekat ujian yaitu menjadikan
    seseorang termuliakan atau terhinakan. Mulia berarti karena seseorang telah
    melawatinya dengan baik. Terhinakan tergantung bagaimana seseorang menghadapi
    apa yang disebut sebagai ujian. Sebagaimana dalam peristiwa memindahan kiblat,
    yang awalnya terletak di baitul maqdis dipindahkan ke almakkatul mukarromah. Salah-satu
    hikmah dari ayat tersebut ialah ‘ingin’ mengetahui siapakah yang mengikuti
    perintah nabinya dan yang tidak.
    Sehingga, yang mengikuti nabinya
    termasuk golongan yang mulia, dan yang tak patuh kepada nabinya tergolong hina.
    Lagi-lagi, terletak pada bagaimana “menyikapi” dan “berperilaku” terhadap ujian
    yang ada.  Jadi, bersyukurlah terhadap
    sesuatu yang menguji kehidupan. Tentu, ada banyak ragamnya cara orang
    menghadapinya.
    Seringkali masalah dianggap sebagai
    ujian kehidupan, orang yang berpotensi muliah menikmati masalah dengan
    bijaksana. Ia tak memandang masalah sebagai “permasalahan”, namun sebagai
    bentuk tantangan. Yang menjadi masalah justru bukan pada masalahnya, namun
    kepada bagaimana sikap terhadap masalah. Dari sini bisa diketahui, fokus permasalahan
    bagi calon orang mulia adalah pada “sikapnya sendiri”.
    Berbeda sekali dengan orang yang
    berpotensi terhina, jalan pintas dianggap pantas. Mengapa, karena sudah tak
    menemukan jalan lagi keluar dari masalahnya. Hal tersebut bermula saat sikapnya
    yang mudah menyalahkan orang lain.  Lupa,
    bahwa masalah yang ada justru merupakan medium mengokohkan diri menjadi lebih
    baik. Karena ketidakmampuan memaknai ujian, jalan pintas pun merupakan hal
    pasti dalam hidupnya.
    Dan akhirnya, penulis menutup
    tulisan berkenaan ini dengan ayat yang lain. Bahwa ujian memang perlu dihadapi
    dengan kesabaran yang meniscayakan perjuangan. Perjuangan dalam menghadapi
    ujian memerlukan suatu pengorbanan, apalah arti perjuangan bila tak ada yang
    dikorbankan.
    Makan saja tidak ada yang gratisan, apalagi untuk memperoleh
    yang mulia dan yang baik. Tentu ada.
    لن تنالوا البر حتى
    تنفقوا مما تحبون, وما تنفقوا من شئ فان الله به عليم
    “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna)
    sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang
    kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui.” (ali-Imron; 92)
    Wallahu ‘Alam Bi al-Showab.
    Kediri, 01 Januari
    2014

    1,285 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “(ayat #1) Arti Sebuah Ujian”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *