Andaikan Hidup dapat di-edit dan di-undo

    “Hidup itu tidak ada pengulangan, sekali melangkah melangkahlah dengan benar”
    Seperti ungkapan orang terdahulu, “” Nak! Penyesalan itu datangnya terakhiran”. Datangnya penyesalan selalu terlambat, namun untuk mengubah hidup yang sudah terjadi tidak kenal istilah terlambat. Jika kita sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka laksanakan keputusan itu dengan sangat tegas, sebelum semuanya akan berakhir dengan mengecap keasaman. Keraguan dalam memutuskan dan melaksanakan berdampak pada kebimbanga hasil yang kurang memuaskan.
    Karena hidup tidak bisa de-edit, tidak dapat didelete atau diundo, lalu mengapa masih saja menyia-nyiakan kesempatan yang datangnya hanya sekali saja. Seperti jam, yang tidak pernah berhenti apalagi mundur dan mengulangi waktu-waktu yang telah pernah dilalui. Okelah, kita menggap hidup itu masih lama, padahal jika kita membandingkan waktu hidup kita dengan hidup semut, tentu kita akan merasa bahwa waktu hidup kita sangat lama, namun jika dibandingkan dengan kehidupan dinosaurus yang umurnya bisa beratus-ratus tahun, apakah masih dapat dikatakan jika umur kita terasa lama? Tidak kan!
    Jika kamu menulis kata “hdup” di whiteboard, tentu kamu memiliki kesempatan untuk menuliskan kembali dengan sempurna, sehingga menjadi “hidup”. Hidup kita bukan begini caranya, dalam arti yang lebih sempit tidak ada isitlah pengulangan, yang terjadi hanyalah sebuah pelajaran dari masa lalu agar tidak terjatuh ke dalam bentuk kesalahan yang sama. Lalu, bagaimana agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama?
    Kita sudah yakin, masing-masing kita adalah beda, berbeda karena tampak setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan ini seakan sudah menjadi identitas yang melekat kuat di dalam diri seseorang. Tukang sapu tidak akan pernah dikatakan tukang bila malas menyapu, begitu pun dengan pengajar, ia dikatan seorang guru karena ‘sering’ mengajar. Tidak ada istilah penyapu sementara atau guru sementara, hal ini disebabkan sifat yang sementara tidak dapat digunakan untuk menjadikan diri berbeda dalam waktu yang cukup lama.
    Semakin sering seseorang melakukan apapun, akan menunjukkan jati dirinya. Seorang penyabar tidak dapat dikatakan penyabar karena hanya bersabar dalam hitungan jari. Ia sudah melewati bermacam-macam ujian hingga kemampuan dirinya untuk bersabar terasa sangat lama. Nah, ini baru dikatakan penyabar yang sejati. Keunikan meniggalkan ‘petunjuk’, ahmad yang sabar petunjukkanya adalah kesabaran, si Ezin kutu buka karena ada petunjuk yang menunjukkan jika ia memang suka membaca buku.

    Untuk itulah, jadikan hidup yang sekali dan dijalankan ‘dengan benar’ sebagai petunjuk orang lain mengenal siapakah kita yang sebenarnya. Sekali orang mengetahui, maka sangat mudah mereka mencari dan menemukan diri kita. Kita pun akan semakin bersemangat menjalani hidup ini. Karena kita sudah mengetahui dengan pasti diri kita yang sebenarnya. Kita tidak pernah bisa mengedit hidup, namun sangat bisa kita merencanakan bagaimana hidup yang akan kita jalani. Terhadap apa yang sudah terjadi di masa lalu, jadikan sebagai peta untuk masa depan. Tidak perlu mendelete atau mencela masa lalu, namun ia merupakan bahan refrensi yang sangat berharga. 

    751 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *