2013-01-05-13.08.51

Analisis Sosial

    Analisis Sosial
    Disampaikan oleh; Bapak Ahmad Farhul Hidayah
    Ditulis ulang oleh: M. Ghazali Ma’ruf
    Kehidupan sosial tidak bisa terlepas dari kehidupan perorangan, dan terjadi justru sering salah kaprah adalah kepentingan perorangan yang diterapkan pada kepentingan sosial. Akibatnya, nepotisme pun tak pelak untuk dihindari. Dan nepotisme sering terjadi pada masa pemerintahan OB. Sedangkan, sekarang masalah pada korupsi yang semakin menjadi-jadi. Hingga dibentuklah komisi peberantasan korupsi (KPK). Itu bukan berarti kepolisian tidak mampu mengatasi masalah korupsi, melainkan semakin maraknya korupsi terjadi.
    Dalam kehidupan masyarakat, ada beberapa lapisan; masyarakat elit, dan juga masyarakat biasa (awam). Yang sering terjadi, masyarakat biasa tidak memahami sebenarnya hal apakah yang dilakukan oleh masyarakat elit yang berusaha melebelkan semua tindakannya atas kepentingan bersama. “Niat busuk” ditutupi, di sinilah perlunya analisa sosial. Yaitu, memberikan pandangan pemahaman kepada masyarakat mengenai kebijakan masyarakat elit, pemerintahan dan semua masalah sosial.
     

    Definisi
    Mahasiswa adalah merupakan bagian dari masyarakat, dan akhirnya juga akan kembali kepada masyarakat pula. Hanya saja, apakah mahasiswa tersebut mampu menjadi bagian dari masyarakat, atau justu menjadi sampah masyarakat. Agar benar-benar mampu menjadi integrasi dari kehidupan masyarakat sosial, mahasiswa harus mampu memberikan pemahaman sosial terkaita dengan masalah-masalah yang berada di area-buta. Yaitu, melalui analisa sosial.
    Analisa sosial bukan soal mencari masalah—terlepas apakah itu benar atau tidak, tetapi masalah itu sudah ada. Analisa sosial bermaksud untuk mendapatkan diskripsi secara lengkap tentang suatu realita kehidupan sosial masyrakat.  Mengamati, menyelami, menggali suatu masalah, latar belakang sehingga timbullah masalah, dan berbagai aspek lainnya.
    Dalam analisa sosial, tentu diperlukan data. Memang benar, data tak mudah untuk didapatkan, tapi tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Ia hanyalah tantangan yang harus dihadapi dalam melakukan proses analisa. Data ini diibaratkan seperti bahan mental dari pembuatan roti. Mustahil roti ada tanpa ada bahan yang menjadikannya; mentega, dll. Begitu pun dengan paradigma yang ada terlahir dari adanya data-data yang terkumpul. Tanpa adanya data, lupakanlah untuk melakukan analisa sosial.
    Analisa sosial hanya sebatas pada penganalisaan, mengetahui realita, sebab musababnya tanpa harus menyelesaikan suatu persoalan. Hanya memberikan ruang wacana dan pemahaman kepada masyarakat awam.
    Tujuan
    Tujuan ibarat pengarah dari suatu pekerjaan, seseorang yang berjalan tanpa tujuan, sama halnya berlayar tanpa tahu ke mana kapal akan berlabuh. Yang pada akhirnya, ia tidak akan pernah sampai di mana pun. Dalam analisa sosial, tujuannya adalah membangun perspektif masyarakat untuk mengetahui masalah yang sedang dihadapi dalam interaksi sosial. bukan untuk mencari masalah, tetapi berusaha menjadikan yang tak bermasalah, agar semakin terlihat masalahnya.
    Berangkat dari persoalan yang terjadi, kemudian dikaji secara mendalam, dan ditemukanlah berbagai macam perspektif. Dan perspektif inilah yang kemudian ditawarkan ke public atau masyarakat. Sehingga, masyrakat dapat berfikir kritis, tidak dibodoh-bodohin—KARENA menjadi korban dari ketidaktahuannya.
    Analisa
    “La takun ratban fatu’sara wa laa takun raabisan fatukassara”, yang artinya, janganlah kau bersikap lemah sehingga kau diinjak-injak, dan janganlah kau bersikap keras hingga kau dipatahkan. Untuk mengetahu permasalahan masyarakat, seseorang harus mampu menjadi bagian dari masyarakat, ia harus menjadi integral dari kehidupan mereka. Sehingga, masyarakat akan mudah menerimanya. Penerimaan inilah yang menjadi kunci dari “keterbukaan” masyarakat, terbuka terhadap penganalisa. Karena dalam fleksibelitas, tidak membawa lebel-lebel mahasiswa misalnya ke dalam kelompok masyarakat akan menyebabkan ikatan emosi. Lah, inilah yang dimaksud dengan mengapa harus menjadi bagian dari masyarakat.
    Menjadi bagian bukanlah menjadi pengamat. Jadilah sesekali orang yang berada di dalam kotak, tapi sesekali juga keluar dari kotak untuk melihat apa yang berada di dalamnya. Lihatlah dari berbagai arah, berbagai sudut kotak tersebut. Sesekali perlu untuk menjadi bagian dari masyarakat untuk mendapatkan data, dan keluar menjadi seorang pengalisa untuk mendapatkan pradigma dan perspektif baru. Diawali dari luar kotak, semakin mendekat dan masuk ke dalam kotak, kemudian keluar kotak dan berputar di daerah sekitar kotak.
    Apa yang terjadi pada masyarakat adalah persepsi bahwa mahasiswa dipandang sebagai seseorang dengan segala kelebihannya; keilmuannya yang mampu mengatasi setiap persoalan  yang ada. Olehnya, mahasiswa ibarat penganalisa tadi, dan masyarakat adalah lingkunga dalam kotak tersebut. Mahasiswa yang menawarkan cara pandang masyarakat, menawarkan hasil bentrokan perspektif (alternative pihak ketiga).

    193 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *