Anak Masa Depan

    Alam ini
    menampilkan pemandangan yang sudah tak semestinya, di mana hak-hak seorang anak
    terampas. Para orang tua yang tak bertanggung-jawab semakin bringas. Hati mereka
    telah mati, keras membatu tak tertandingi. Uang-uang kini telah menjadi raja,
    hanya alasan karena itu semua telah buta. Anak dibuang, dibunuh, digantungkan
    di spion-spion mobil. “Apa yang telah mereka perbuat?”

    Beberapa waktu
    terakhir, sempat mencuat berita di media massa. Seorang ayah telah membunuh
    keempat anaknya, sebagian masih berumur balita. Ada pula seorang ibu muda,
    membuang anaknya dengan membungkusnya pada plastik hitam kemudian dibiarkan
    bergantungan di spion mobil. Cerita yang lain bahkan ada yang menguburkannya
    hidup-hidup. Nasib anak-anak suci tak berdosa itu sungguh malang.

    Ini, kejadian di
    tahun sekarang, bagaimana anak-anak masa depan? Akankah mengalami hal yang
    demikian, atau akan semakin berkurang dan kemungkinan terakhir kejadian akan
    semakin kejam. Kasus demikian sangat memprihatinkan. Siapakah yang disalahkan? Apakah
    karena dunia, uang, atau memang karena diri mereka sebagai pelaku kasus?
    Entah apa yang
    terlitas di benak saya, seolah-olah ingin menjudge bahwa mereka begini dan
    begitu. Nilai-nilai di dalam diri intern telah digantikan nilai yang dibangun
    pada abad intans dan hedonism. Uang menjadi harga mati, lebih berharga
    dibanding manusia, dibanding anak sendiri. Keputusasaan membuat manusia gelap
    mata, seolah tak sadar “jalan” ada di dekatnya.  
    Aristoteles mengatakan bahwa “Hidup yang tak
    disadari adalah hidup yang tak pantas dijalani”. Sadar merupakan kunci untuk
    melihat diri, menghargai kenyataan dan menilainya dengan apa adanya. Kehilangan
    kesadaran membikin seseorang hilang dari kemanusiaannya, segala cara diambil
    dan ditempuh “yang menurutnya” jalan terbaik. Benarkah membunuh anak adaha cara
    terbaik untuk menutup aib? Untuk meringankan beban ekonomi?
    Maka sadarlah, sadar bahwa di balik ini semua ada
    kekuatan yang Maha Dahsyat, membantu setiap hamba untuk mengatasi problema
    kehidupan. Seperti halnya siang dan malam, masalah pun diciptakan sepasang
    dengan solusi. Bahkan, di dalam al-Qur’an setiap “satu kesulitan” selalu
    diikuti oleh “dua kemudahan”. Masihkah kita belum percaya bahwa hidup ini tak
    sekeras seperti bayangan pikiran kita? Yang percaya hidup itu keras karena
    kurangnya keyakinan bahwa Allah akan mempermudah segalanya.
    Memang dibenarkan hidup itu keras, namun tak
    sekeras apa yang di benak kita. Benak kita seringkali dimasuki oleh bisikan
    syetan yang ingin membuat kita putusasa, tak yakin kepada kekuatan hakiki. Sadarlah,
    Allah masih menyayangimu. Allah masih merahmatimu bagaimana pun keadaanmu. Kembalilah
    kepada-Nya, dan Dia akan menerimamu. Mintalah ampun atas segala dosa, mintalah
    pertolongan dari segala macam masalah. “uduuni astajib lakum”, Mintalah
    kepada-Ku niscaya kan kukablukan bagi kalian, demikian firmannya. 

    1,625 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Anak Masa Depan”

    1. betul mas saya sering melihat berita di tv ada kejadian ayah membunuh 4 anaknya yang tanpa dosa itu, ada yang di masukkan ke dalam air lah yang di bakar lah sungguh tega ayah membunuh anak kandungnya sendiri .
      semoga kita di jauhkan dengan hal kejahatan-kejahatan seperti itu..

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *