baru-edt

Aku

    Perubahan sosial diakibatkan oleh perubahan yang terjadi pada struktur kelompok-sosial; baik dari segi agama, ekonomi, pendidikan, kekuasaan, hukum. Dengan adanya perubahan tersebut, perubahan kehidupan sosial pun berubah. Misalnya, seorang guru yang kemudian merangkap menjadi pedagang, maka peran guru yang dalam arti sebenar-benarnya akan terkurangkan. Karena kesibukan keduanya, pikirannya pun pecah. Sehingga, berdampak terhadap anak didik. Alhasil, anak didik yang notabenenya adalah masa depan bangsa, bangsa pun akan berubah karena mereka.

    Dan perubahan struktur kelompok sosial itu sendiri sebenarnya dipengaruhi oleh perubahan sosial itu sendiri. Dengan kata lain, terjadi siklus di antara keduanya. Sejauh ini, belum diketahui apa definisi perubahan sosial itu. Ialah gejala perubahan atau segala bentuk peristiwa  yang dapat merubah lembaga-lembaga kenegaraan didalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system sosial. System tersebut adalah nilai-nilai sikap, pola perilaku kehidupan kelompok sosial.
    Kedinamisan kebudayaan sosial diimbangi dengan perubahan sosial. Dan itu beriringan pula dengan nilai-nilai sosial. Ketiganya saling beriringan satu sama lainnya. Semua perubahan dipengaruhi oleh; pertama, aspirasi. Yaitu akal budi, dan kesadaran akan faktor alam. Kedua, persaingan dan konfliks. Ketiga,kebudayaan asing.
    Mengenai bentuk perubahan sosial itu sendiri ada dua bentuk. pertama, evolusi. Yaitu perubahan sosial yang terikat oleh waktu dan tempat, dan bersifat berangsur-angsur dalam waktu yang cukup lama—sedikit demi sedikit. Selain itu, perubaha evolusi juga membawa perubahan kecil yang mengekor-mengikuti di belakangnya. Mengenai macam-macam evolusi ada tiga; dinginkan, direncanakan dan tidak diinginkan.
    Kedua, revolusi. Adalah pola perubahan kebudayaan yang sifatnya sangat cepat, baik yang terencana, maupun tidak direncanakan sebelumnya. Dan dampak dari revolusi adalah mengubah sendi-sendi secara drastic.
    Malu rasanya
    Alhamdulillah, setelah pagi ini aku benar-benar merasakan menjadi diri yang begitu bersemangat untuk membagikan pengalamanku, dan gagasanku melalui dunia maya. Dunia masa depan. Di sini sudah ada beberapa tulisan yang kutelurkan, semisal, rekontruksi kembali teori Alferd Adler. Wuh, melelahkan tur memberikan banyak manfaat bagi diriku.
    Entah mengapa, hari ini aku tidak merasa lelah, letih. Padahal, jika seperti hari-hari biasanya hidupku dipenuhi dengan keletihan dan kemalasan. Mungkin, inilah cara Allah memberikan jalan untuk menekuni dunia tulis-menulis dan dunia psikologi.
    Alhamdulillah, dekapku sekali lagi. Aku benar-benar bersyukur sekali sudah mengawali pembiasaan menulis setiap hari. Aku berkomitmen untuk mengisi ke lima blogs-ku setiap hari. Bagaimana pun dan jua pun.
    Tampak, beberapa teman di facebook sudah terbiasa dengan bahasa inggris, lalu kapan dengan diriku? Kapan aku belajar bahasa inggris, bahasa prancis. Aku harus benar-benar menargetkan untuk belajar bahasa inggris. Aku harus menargetkan untuk benar-benar belajar bahasa prancis. Aku bersemangat sekali untuk belajar kedua bahasa tersebut.
    Amien… akhir semester empat, saya sudah terbiasa menulis dalam bahasa inggris seerti semudah menulis catatan harianku ini. bagaimana pun caranya, harus diusahakan. []
    …………………….
    Siang sudah segera tiba, setelah selesai meminjam sebuh buku dari perpustakaan, aku duduk kembali di depan komputerku. Berharap banyak ide muncul ketika jari sudah mulai digerakkan. Tapi, nihil. Kekuatanku masih belum berkembang sedemikian rupa. Kata-kataku tidak berkembang dan monoton begitu-begitu saja. Saya pikir, dosa apa yang telah kulakukan?
    Oh, iya. Sebagai insans pers aku sudah melakukan dosa besar, dari beberapa macam dosa. Salah-satunya adalah malas membaca, ya saya begitu tidak membaca opini yang dituliskan oleh orang lain. Bukankah jika kita membantu kita juga akan dibantu. Lah, bagaimana mungkin tulisanku akan banyak dibaca orang lain, wongsaya sendiri masih malas untuk membaca karya tulis orang lain. Hukum kausal selalu ada. Jadi, bacalah karya orang lain jika karyamu ingin dibaca oleh orang lain.
    Terlelap dan sanyu, atas permadani ketika hati sudah semakin lusuh. Ketika harapan sekedar harapan, usaha keras tidak bisa diandalkan tanpa usaha cerdas. Aku benar-benar menyesal akan dosa itu. Dosa yang terus membelenggeku untuk menuliskan secercah tunas kehidupan jiwa. Untuk hari ini dan seterusnya, aku harus membaca opini public, membaca dua opini minimal dan beberapa lembar dari buku. Itu pulah adalah kewajiban insan pers.
    Seharusnya aku malu, sebagai insane Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia. Dimanakah letak identitas diriku, dimana? Atau kau hanya sekedar ‘nama’, yang tak pernah ku sempatkan untuk membuktikan yang sesungguhnya. []
    Kediri, 18 Desember 2012
    Tidak bisa mutasi Ke IAIN Sunan Ampel Surabaya
    “Memang sudah nasib menjadi orang pinggiran”, kata-kata yang selalu kutemui pada mereka yang pasrah denga kehidupan. Ku berdoa untuk tidak menjadi seperti orang yang hanya bisa sekedar pasrah tanpa berusaha terlebih dahulu. Memang benar,perasaan pilu selalu ada saat aku tida dapat diterima pindah ke universitas tersebut.
    Tapi, Allah selalu mencoba untuk menenangkan ku bahwa semua apa yang sudah ditakdirkan adalah yang terbaik, dan merubahnya menjadi lebih baik juga merupakan takdir baru yang harus diusahakan. Seperti misalnya, aku tidak bisa diterima di universitas tersebut lantaran campusku masih belum terakreditasi (dalam proses akreditasi).
    Sungguh, sakit hati rasanya. Mendengar kabar tersebut. Lah, kalau begitu, bagaimana dengan mereka yang ketika kuliah dan lulus dengan mendapatkan ijazah dari suatu perguruan yang belum terakreditasi. Bahkan, di antara teman kakak kelas ada yang terpaksa mengulangi kuliahnya gara-gara ijazahnya belum terakreditasi. Dimana letak tanggungjawab perguruang tinggi terhadap mereka? Apakah mereka dijadikan sebagai ‘hewan’ percobaan untuk sekedar membesarkan perguruan tinggi. Sungguh tragis potret perguruan tinggi yang belum terakreditasi.
    Jika sudah tidak bisa pindah ke IAIN Sunan Ampel, biarlah aku akan mencoba membuktikan segenap kemampuanku untuk ‘mengalahkan’ mereka. Akan kubangun komunitas menulis di kampusku, akan kubuat buku sebanyak mungkin untuk kemudian diterbitkan. Kan kubawa nama campusku berkibar dengan karyaku. Aku berjanji padamu—atas kegagal tidak diterima mutasi untuk; (1) akhir semester empat sudah terbiasa menulis dalam bahasa inggris. (2) mendirikan komunitas menulis di campusku. (3) tiap tiga bulan minimal ada satu-dua buku dituliskan sebagai bukti bahwa pada perguruan tinggi yang belum terakreditasi pun mampu menelurkan karya melebihi dari yang ‘sudah-sudah’. []
    aku sempat galau berat, ketika ada salah-satu ketua (PO) LPM mengatakan, “PPMI bukan tempat belajar menulis, jika mau menulis ikut saja sekolah menulis, keluarlah dari PPMI”.

    sejauh ini, pemahaman saya adalah PPMI adalah gerakan berbasis kejurnalistikan (kepenulisan). maka dapat diasumsikan bahwa menulis (pena) adalah senjata utama untuk mencapai misi pergerakan. lah, kalau tidak dapat menulis denga baik, bagaimana bisa mencapai pergerakan itu sendiri.

    seharusnya, ia mengubah kata-katanya dengan memperhalus lagi. “PPMI adalah wadah pergerakan, jadi janganlah jadikan menulis sebagai ‘tujuan’, tapi sebagai ‘medium’ untuk mencapai pergerakan dari hakekat PPMI”.

    saya berdoa, semoga PO tersebut benar menyadari ucapannya tersebut. hingga, berlarut hinggi kini, ungkapannya tersebut masih membekas di hati saya. “ungkapan yag hanya mematikan kreativitas dan karakter anggota LPM”.

    153 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *