Akal Pikiran Atas Kematian

    Berthold Eckermaan seorang Ilmuan
    Jerman, bertekad meneliti “pengalaman sebelum kematian”.  Dalam empat tahun terakhir, sudah ada 944
    relawan (kelompok eksprimen)  untuk
    penelitian ini. Mereka terdiri dari lintas agama; Kristen, Islam, Hindu, Budha
    dan Atheis. Pada relawan diberikanlah Epinerfin dan Dimethyltrytamine agar bisa
    mati 20 menit. Dengan alat autopulse memungkin penelitian ini dilakukan.
    “saya merasa berpisah dari tubuh,
    terbang-melayang dengan nyaman. Kemudian, melihat cahaya bersinar jauh di atas
    sana” tandas salah satu relawan. Tanpaknya Berthold kegirangan, ia merasa
    berhasil telah melaksanakan penelitian bersama timnya. Yaitu Tim Psikologi dari
    Technische Universistä di Berlin-Jerman.
    Sebagian kelompok agamawan—khususnya
    Islam—menolak penelitian ini. alih-alih menerimanya, landasan saja secara kasar
    tak mungkin menembusnya. Yaitu persoalan kematian dan yang setelahnya.
    Alih-alih soal perjalanan ruh. Anggapannya, bila otak manusia sebegitu hebat
    sehingga tak ada lagi apa yang dirahasiakan Allah. Lalu berarti untuk apa
    manusia? Justru karena manusia itulah, akal manusia terbatas.
    Yas
    aluunaka `ani al-ruh, qulil arruhhu min amri rabby wa maa uutitum minal `ilmi
    illa qaliila.
    “saat
    mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai ruh, maka katakanlah bahwa
    ruh adalah urusan Tuhanku, dan tidaklah mereka diberikan ilmu (mengenainya) kecuali
    sedikit saja. Akal manusia tak lebih mampu dari apa yang dielukan dunia ilmuan.
    Apalagi persoalan urusan Tuhan.
    Sebenarnya, perilaku ini—kehausan
    manusia akan pengetahuan soal yang tak bisa dijangkau oleh akal—telah
    dituangkan dalam ayat al-Qur’an. Manusia itu suka bertanya, diperintahkan
    menyembelih sapi,  masih bertanya. “sapi
    yang bagaimana?”. Dan terus bertanya, sampai kemudian manusia tak mampu mencari
    sapi yang dikehendaki Allah. 

    Kekacauan manusia dengan
    mengelu-ngelukan alam pikiran di atas segalanya perlu mendapatkan perhatian.
    Nyatanya, semua yang tercipta, yang abstrak dari alam spritual tak dapat
    diilmiahkan. Sia-sialah bila harus alamiah apa yang tak mampu dijangkau
    pikiran. Ilmiah hanya mengedepankan panca indera dengan topangan akal.  Hingga stetamen bermunculan, “kalau saya
    tidak melihat dengan mata sendiri, tidak mendengar dengan telingan sendiri maka
    untuk apa saya percaya”. Jadi, kebenaran menurut mereka tak lebih merupakan
    kebenaran alat indera, dan akal. 

    Rasanya sulit sekali membuat mereka
    tersadarkan. Agar sadar kembali bahwa akal tak perlu mendapatkan kedudukan di
    atas segalanya, karena ia bisa merusak tanpa ada ikatan dengan hati.  Okelah saja bisa diterima, andai saja si akal
    penjadi pendamping dari hati. Karena hatilah, fitrah ketuhanan bersemayam,
    selain juga di dalam diri manusia terdapat unsur-unsur kebinatangan. 

    995 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Akal Pikiran Atas Kematian”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *